08.00 - 16.00
Senin - Jumat
Pernahkah Anda mengalami momen "Horor" ini?
Saat anak menumpahkan air atau rewel, tiba-tiba Anda meledak. Anda berteriak, membentak, atau bahkan melayangkan tangan.
Lalu, detik berikutnya saat melihat wajah anak yang ketakutan, Anda terdiam. Anda melihat ke cermin dan menyadari satu hal yang mengerikan:
"Ya Tuhan, aku persis seperti Ibuku/Bapakku dulu."
Dulu Anda bersumpah: "Nanti kalau aku punya anak, aku gak bakal galak kayak Mama/Papa. Aku bakal sabar."
Tapi realitanya? Anda mengulanginya.
Kenapa?
Karena Anda belum selesai dengan masa lalu Anda.
Anda masih menyimpan "Bangkai" rasa sakit hati, kecewa, dan amarah kepada orang tua Anda sendiri. Dan hari ini, tanpa sadar, Anda melampiaskan dendam itu kepada anak-anak Anda yang tidak berdosa.
Ada pepatah psikologi yang sangat menampar:
"Jika kamu tidak menyembuhkan lukamu, kamu akan berdarah pada orang yang tidak melukaimu."
Anak Anda hanyalah korban.
Saat Anda membentak mereka karena nilai jelek, itu bukan karena mereka bodoh. Tapi karena "Inner Child" (anak kecil dalam diri Anda) sedang menjerit ketakutan: "Dulu kalau nilaiku jelek, aku dipukul Ayah. Jadi kamu harus bagus biar aku gak ngerasa gagal!"
Sadarilah, Ayah Bunda.
Selama Anda belum memaafkan orang tua Anda, Anda tidak akan pernah bisa menjadi orang tua yang merdeka. Anda hanya akan menjadi "Foto Copy" dari pola asuh yang Anda benci itu.
Untuk bisa memaafkan, kita harus mengubah cara pandang.
Orang tua kita dulu tidak seberuntung kita.
Mereka tidak punya Google untuk cari "Cara Mengatasi Tantrum".
Mereka tidak follow psikolog anak di Instagram.
Mereka mungkin dibesarkan di zaman perang atau kemiskinan ekstrem.
Mereka mendidik kita dengan satu-satunya cara yang mereka tahu: Cara Keras.
Mereka mungkin salah. Mereka mungkin melukai kita.
Tapi, mayoritas dari mereka melakukan itu bukan karena benci, tapi karena Ketidaktahuan.
Mereka memberi kita "Nokia 3310" (didikan keras), padahal kita butuh "iPhone" (didikan lembut).
Apakah mereka pelit? Tidak. Mereka cuma punya Nokia itu. Itu kemampuan terbaik mereka saat itu.
Banyak yang enggan memaafkan karena gengsi: "Tapi kan mereka salah! Masa aku harus lupain pukulan mereka?"
Memaafkan BUKAN berarti membenarkan kesalahan mereka.
Memaafkan BUKAN berarti Anda harus setuju dengan cara mereka.
Memaafkan adalah: Memutus Rantai Besi yang mengikat kaki Anda.
Anda melepaskan rasa benci itu, supaya Anda bisa lari bebas memeluk anak Anda tanpa beban. Memaafkan itu hadiah buat diri Anda sendiri, bukan buat mereka.
1. Validasi Rasa Sakitnya
Jangan disangkal. "Ah, aku gapapa kok." Bohong.
Akui saja: "Ya Allah, aku sedih dulu sering dibanding-bandingkan. Aku sakit hati dulu sering dicubit."
Menangislah. Validasi bahwa anak kecil di dalam diri Anda itu memang terluka.
2. Lihat Mereka Sebagai Manusia Biasa
Turunkan orang tua kita dari status "Dewa". Mereka manusia. Punya dosa, punya trauma, punya masa lalu yang mungkin lebih kelam dari kita.
Lihat uban mereka sekarang. Lihat keriput mereka. Mereka sudah tua dan lemah. Masih tegakah kita menyimpan dendam pada orang yang sebentar lagi akan kembali ke tanah?
3. Doakan (The Power of Birrul Walidain)
Ini cara Islam yang paling dahsyat.
Saat hati masih berat memaafkan, paksa lisan untuk mendoakan: "Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira."
(Sayangilah mereka sebagaimana mereka merawatku sewaktu kecil).
Doa ini ajaib. Dia akan mencuci hati kita perlahan-lahan.
Ayah Bunda, cukup.
Biarlah trauma itu berhenti di generasi kita. Jangan wariskan "sampah emosi" ini ke cucu kita nanti.
Jadilah pahlawan pemutus rantai (Chain Breaker).
Maafkan Ayah Ibumu yang dulu tidak sempurna, agar kamu bisa menjadi Ayah Ibu yang lebih baik untuk anak-anakmu.
Peluk anakmu hari ini. Dan dalam hati, berbisiklah:
"Nak, Ayah/Bunda sudah berdamai. Kamu aman bersama kami."
Ingin sekolah yang memahami pentingnya kesehatan mental orang tua dalam pendidikan anak?
Di Al Lathif Islamic School, kami rutin mengadakan sesi Parenting Healing. Kami percaya bahwa anak yang bahagia lahir dari orang tua yang sudah selesai dengan masa lalunya. Mari bertumbuh bersama kami, menjadi orang tua yang tidak hanya mencetak prestasi, tapi juga mewariskan kebahagiaan.
Mengembangkan Kecerdasan Anak Menuju Generasi Qur’ani Yang Berakhlak Mulia Dan Berwawasan Global Untuk Memenuhi Peran Mereka Sebagai Khalifah Di Muka Bumi.
> Read More